Melu Mikir

NGABUBURIT, BOLEH NGGA’ YA ?

223b88670bb5568841909cd434f34b1d_ngabuburit-4Selama ramadhan, menjelang berbuka dan usai sahur biasanya banyak anak-anak muda yang ngabuburit apa sih hukumnya ? Kan banyak sekali yang mungkin bawa pacar dll. ? Sebagai generasi muda, apa sih yang seharusnya dilakukan?

Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda. Sebagaimana dijelaskan oleh kang Abdul Aziz dalam http://abdaz.wordpress.com, kata ngabuburit berarti ngalantung ngadagoan burit, yang artinya kurang lebih : bersantai-santai sambil menunggu waktu sore.

Kata ngabuburit dibentuk dari kata dasar burit yang memperoleh proses reduplikasi dwipurwa (pengulangan suku kata pertama) dan penambahan prefiks nga- (imbuhan bahasa Sunda) yang membentuk kata kerja. Kata dasarnya sendiri, yaitu burit sebetulnya tidak ada hubungannya dengan puasa (burit berarti sore). Artinya, pada awalnya kegiatan ngabuburit tidak harus pada bulan Puasa saja.

Sedangkan di Jawa, khususnya daerah sekitar Gunung Muria (Jepara, Kudus, dan Pati) istilah ngabuburit di bulan Puasa itu dikenal dengan istilah nunggu dheng, maksudnya menunggu bedug maghrib; atau luru sore, artinya mencari kegiatan sambil menunggu sore hingga tenggelamnya matahari (waktu maghrib). Dan memang, baik istilah ngabuburit maupun nunggu dheng popular ketika bulan Ramadhan (Puasa). Maka untuk waktu setelah sahur, baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah tidak popular adanya istilah-istilah tersebut.

Hukum Ngabuburit

Secara fiqhiyah sepanjang ngabuburit pengertiannya adalah sebagaimana disebutkan di atas, hukumnya boleh (jawaz, mubah). Tetapi status hukum akan berubah sesuai dengan kondisinya. Jika ngabuburit diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti ngaji sorogan (mempelajari suatu kitab langsung setiap peserta memegang kitabnya masing-masing) di hadapan seorang kiyai. Ada juga yang ndarus atau tadarusan (membaca al-Quran bersama) hingga menjelang maghrib. Ada juga yang luru bukan (datang ke masjid yang sudah siap dengan makanan dan minuman untuk buka puasa bersama). Ada lagi yang mengajak jalan-jalan anaknya yang masih kecil ke sawah atau ke jalan raya agar anaknya lupa atau dialihkan perhatiannya agar tidak minta makan minum membatalkan latihan puasanya.

Jika ngabuburit menjadi wasilah (mediator) pendidikan, baik dalam mempelajari ilmu-ilmu agama maupun pelatihan puasa kepada anak yang belum baligh (dewasa), jelas hukumnya menjadi sunnah. Kaya yang beginian nih,

7677568a393641407b56f1a9efa083e0_ngabubburit

Sebaliknya, jika ngabuburit itu diisi dengan kegiatan yang jelas dilarang dalam agama, maka hukumnya menjadi haram. Seperti ngabuburit dengan berduaan bersama lain jenis yang bukan mahramnya, membawa pacar dan sejenisnya, sedangkan pacaran sepanjang yang popular serta sebagaimana yang kita saksikan langsung dengan mata kepala sendiri sekarang ini, jelas haram karena jika tidak sudah masuk wilayah perzinaan, paling tidak perbuatan mendekati zina, sementara mendekati perbuatan zina hukumnya haram.Naudzu billahi min dzalik !

Apa yang seharusnya dilakukan?

Terus terang mengamati fenomena anak-anak muda sekarang ini terutama berkaitan dengan pacaran atau pergaulan bebas sungguh memprihatinkan. Masalahnya kompleks dan rumit dan tidak dapat disalahkan begitu saja kepada anak-anak muda itu sendiri. Banyak faktor yang terkait, seperti kondisi rumah tangga keluarga, orang tua lengah, tidak peduli, atau mungkin sudah tidak didengar lagi oleh anaknya, kondisi sosial masyarakat, aparat keamanan, integritas tokoh atau pemimpin, baik yang disebut umara maupun ulama. Tetapi dari sekian banyak faktor itu tetap yang paling berperan adalah dalam keluarga terutama orang tua. Bukankah hadits popular sering kita dengar, bahwa seorang anak pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci); kedua orang tuanya (lingkungan terdekat) yang berperan menjadikannnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi ?

Sebenarnya banyak kegiatan positif yang sudah dilakukan oleh anak-anak muda, khususnya dalam mengisi ngabuburit tadi, misalnya pesantren kilat, tadarus al-Quran, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Hanya saja sekarang ini semakin perlu untuk ditingkatkan dan dikembangkan lagi. Tetapi bagaimanapun perlu diingat, bahwa pada akhirnya suatu hidayah hanyalah dari Allah SWT sendiri. Segala kegiatan, betapapun positifnya tidak dapat menjamin seseorang langsung seperti membalik telapak tangan, berubah dari yang buruk menjadi baik, dari jalanan menjadi masjidan, atau dari bandit menjadi ustadz.

Maka dalam kondisi masyarakat seperti sekarang ini yang penting kita sudah berupaya merubah diri menuju yang lebih baik dengan ibda’ bi nafsik ! (Mulailah dari diri sendiri). Qu anfusakum wa ahlikum naran ! (Peliharalah dirimu dan keluargamu dari adzab neraka). Sedangkan masalah hidayah tetap hak prerogratif Allah SWT (QS. Az-Zumar, 39 : 23 dan Al-Baqarah, 2 : 120).

Kesimpulan:

1. Ngabuburit merupakan tradisi menunggu datangnya waktu maghrib dan popular pada waktu bulan Ramadhan, yaitu menunggu datangnya waktu berbuka puasa tiba.

2. Secara fiqhiyah hukum ngabuburit adalah boleh (jawaz, mubah), tetapi dapat menjadi sunnah bahkan haram tergantung kondisi nyata yang terjadi.

3. Anak-anak muda perlu meningkatkan dan mengembangkan kegiatan sosial kegamaan dalam mengisi ngabuburit dengan dukungan berbagai unsur masyarakat, dengan prinsip mulai diri sendiri dan hasilnya tetap tergantung hidayah Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s