Bulan: Juli 2014

Tulisan Dan Komentar Kita Merupakan Proyeksi Diri Kita Yang Sebenarnya


Wajah-wajah”Hati-hati dengan ucapanmu, karena ia bisa membunuhmu !!! ”

Kalau kita membaca berbagai tulisan di media sosial seperti facebook, twitter, line, bbm dan sosial media yang lainnya, bisa kita telusuri tinjauan psikologis dari para penulis. Kemudian sasaran dan maksud apa yang sedang si penulis lakukan dalam tema dan isi tulisannya. Termasuk dalam berkomentar terhadap suatu tulisan atau mengomentari teman yang berkomentar. Oleh sebab itu gaya tulisan, gaya bahasa serta cara pengungkapan maupun cara kita mengomentari sebuah tulisan atau komentar orang lain akan bisa mengungkap kualifikasi karakter apa dan siapa kita sebenarnya.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa yang bisa memahami isi hati dan pikiran manusia cuma Tuhan. Tidak juga, bagaimana dengan suami dan istri kita, anak-anak kita, teman karib kita yang juga mengetahui isi hati dan pikiran kita..???. Kalau Tuhan tentulah sangat mengetahui sedalam apa yang ada di hati dan pikiran kita. Jika begitu, seorang guru spiritual juga seorang psikolog tidak akan bisa mengevaluasi dan memberikan solusi permasalahan kita jika sang guru ataupun sang psikolog tidak mengetahui isi hati dan pikiran kita.

Makanya sebuah tulisan-status dan komentar di dunia maya akan memberikan gambaran proyeksi diri kita yang sebenarnya, yang bisa transparan dilihat oleh banyak orang (kliker).

Pastilah kita pernah membaca sebuah tulisan yang membuat kita menangis sejadinya, atau membuat kita tertawa terbahak-bahak. Itu menandakan bahwa kita bisa membaca dan merasakan suasana melalui mata batin kita secara tidak sadar maupun sadar, makna yang tersirat dan tersurat dalam tulisan tersebut. Bagaimanapun juga suasana hati penulis yang berbaur dengan pikiran sang penulis dapat kita rasakan dalam tulisan yang kita baca.

Keahlian, kekayaan, kecantikan, ketampanan serta kecerdasan yang kita miliki hanya sebagai bagian nilai tambah diri kita, dan semua itu tidak akan mampu menutupi moral atau akhlak kita, jika pendidikan dalam rumah tangga orang tua kita sampai selanjutnya kita berumah tangga tidak dibina dan dibudaya dengan baik.

Begitu juga dengan keimanan kita, kalau kita belum paham akan makna ajarannya maka kita akan menjadi pelaksana perilaku kontra nilai yang baik dalam masyarakat kita.

Facebook serta media sosial lainnya bisa kita katakan sebagai wujud wadah MASYARAKAT ON-LINE yang di dalamnya berhimpun berbagai kualifikasi indifidu beserta karakternya masing-masing, makanya kita akan melihat tontonan maya yang lucu, yang indah, yang konyol, yang ngebanyol pada berbagai laman tulisan – sesuai dengan karakternya masing-masing di kehidupan yang sebenarnya.

Salam…

KONSISTENSI FALSAFAH ULAMA


Dalam Riwayat Pembelaan Kitab Riyadus Shalihin

Riyadhus ShalihinKitab Riyadus Shalihin adalah sebuah kitab yang sangat masyhur dalam dunia Islam. Kitab ini telah dijadikan pegangan selama ratusan tahun bagi para ulama, pelajar dan penuntut ilmu agama di belahan dunia. Di Indonesia sendiri kitab Riyadus Shalihin ini merupakan salah satu ‘kitab wajib’ bagi seluruh pesantren.

Pengarang kitab Riyadus Shalihin adalah Al Imam Al ‘Alamah al Muhaddits, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasqi as Syafi’i, beliau dikenal sebagai ulama paling ‘alim pada zamannya, zuhud dan wara’, serta kuat beramal sholeh. Dilahirkan di sebuah desa bernama Nawa dekat Damsyik, Suriah pada tahun 631 H. Beliau mulai menuntut ilmu di sebuah sekolah agama milik Habbatullah bin Muhammad Al Anshori yang terkenal dengan sebutan Ibnu Rawahah. Madrasah itu bernama Madrasah Ar Rawahiyyah. Imam Nawawi belajar di Madrasah ini mulai tahun 649 H, saat berusia delapan belas tahun, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Darul Hadits di Madrasah Usruniah. Beliau wafat di desanya sendiri yaitu desa Nawa, Damsyik, Suriah, pada tahun 676 H pada usia 45 tahun. Meskipun beliau belum sempat menikah seumur hidupnya, namun sebagai penghormatan, kaum muslimin tetap menggelarinya ‘Abu Zakaria’, yang menggambarkan seolah-olah beliau pernah memiliki seorang putra.

Riyadus Shalihin yang diartikan sebagai pelatihan orang-orang shalih, dibahas menjadi 19 kitab yang terbagi atas 372 Bab dan menyertakan sebanyak 1900 hadits. Dalam metode penulisannya, Imam Nawawi mengemukakan ayat-ayat Qur’an sebagai dalil utama untuk menguatkan dalil penyokong atas kitab yang akan dibahas, kemudian baru menyertakan dalil-dalil hadis sebagai penjabaran atas bab-bab yang dibahas tersebut.

Di dalam mukaddimah kitabnya, Imam Nawawi mengatakan bahwa kitabnya itu mengandung hadis-hadis yang beliau kutip dari Kutubussittah (enam kitab utama), yaitu kitab hadis yang paling utama dalam Islam. Dan secara tegas dikatakan bahwa beliau hanya mengutip hadis-hadis yang shahih dari kitab-kitab yang masyhur itu. Dengan demikian tidak akan ada satu hadis dho’if pun yang dimasukkan ke dalam kitab ini. Dalam hal ini, para ulama se-dunia selama ratusan tahun sudah membuktikan kebenaran ucapan Imam Nawawi itu. Selanjutnya, dalam perjalanan sejarah, kitab Riyadus Shalihin terbukti telah berhasil membantu para ulama untuk membentuk murid-murid mereka di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah, atau pada majelis-majelis ta’lim di masjid-masjid di seluruh Indonesia.

Syaikh Muhamamd bin Allan as-Shiddiqi as-Syafi’i al-Asy’ari al-Makki, seorang ulama Hijaz yang wafat pada tahun 1057 H telah pula mensyarahkan kitab Riyadus Shalihin Imam Nawawi ini ke dalam sebuah kitab yang berjudul Dalilul Falihin Li Thariqi Riyadis Shalihin sebanyak 4 jilid tebal. Kitab Syarah Riyadus Shalihin ini juga sangat terkenal di sisi para ulama ahlusssunnah wal jama’ah di dunia Islam, khususnya bagi para ulama dan santri di tanah air Indonesia.

Latar Belakang Pandangan

Imam Nawawi Rahimahullah adalah seorang ulama besar dalam fiqih mazhab Syafi’i yang telah mencapai derajat yang tinggi yaitu mujtahid fatwa. Seluruh pembahasan yang menyentuh masalah fiqih dalam kitab ini pasti selaras dengan tuntunan syariat dalam mazhab Syafi’i pula. Sedangkan dalam pemahaman aqidah, beliau dikenal sebagai ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Al Asy’ariyah. Tidak heran jika dalam pembahasan masalah aqidah, beliau selalu berpegang teguh pada mazhab ahlusunnah wal jama’ah yang melatar belakangi pendidikan serta faham beliau semasa hidupnya.

Sebagaimana dimaklumi, akidah ahlussunnah wal jama’ah al Asy’ariyah senantiasa mengamalkan ta’wil atas sifat-sifat Allah yang mutasyabihat kepada sifat-sifat Allah yang muhkamat. Sebagai contoh jika bertemu dengan ungkapan “Tangan Allah”, akan dita’wil menjadi “Kuasa Allah”, “Muka Allah” dita’wil dengan “Zat Allah”. Ini dimaksudkan agar terhindar dari faham Mujassimah, yang menggambarkan seolah-olah Allah punya jasad, mirip dengan makhluk-Nya. Sedangkan ungkapan “Allah Turun” dita’wil menjadi “Allah menurunkan rahmat-Nya”, Allah “duduk” menjadi “Allah berkuasa”, dan lain-lain sebagainya. Beliau menghindari faham yang menyerupakan Allah dengan sifat makhluk seperti: “duduk”, “naik”, “turun”, ‘bertempat tinggal pada tempat tertentu’, ‘tertawa’, dan lain-lain. Ta’wil yang beliau lakukan ini sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan hadis-hadis shahih yang muhkamat, agar terhindar dari kemiripan dengan faham Musyabbihah, yang memahamkan Allah itu mempunyai sifat mirip dengan makhluk-Nya..

Untuk pembahasan masalah fiqih, yakni yang berkaitan dengan masalah hukum ahkam agama, beliau dengan mantap berpegang teguh kepada mazhab Syafi’i. Itulah mungkin yang menjadi salah satu penyebab kenapa kitab Riyadus Shalihin ini sangat populer di Indonesia, di mana memang hampir seratus persen kaum muslimin Indonesia telah menganut mazhab Syafi’i selama ribuan tahun.

Pembahasan Isi Kitab

Diawali dengan ‘kitab Ikhlas’, beliau membuka dengan manis kitab Riyadus Shalihin itu dengan menyertakan ayat-ayat Qur’an yang mendukung pembahasan kitab ikhlas tersebut. Hampir seluruh isi kitab ini mengandung ruh akan dorongan menghambakan diri kepada Allah serta ‘memupuk’ amal shalih. Mayoritas isi pada kitab-kitab awal adalah mengenai masalah hati dan kebersihan jiwa. Seperti masalah ikhlas niat, taubat, sabar, shiddiq, murraqabah, yaqin, tawakal, istiqamah, mujahadah, hemat, rajin, zuhud, qana’ah, dermawan, tolong-menolong, nasehat, amar ma’ruf-nahi mungkar, amanat, dan menghindari kezaliman.

Pada bagian berikutnya beliau menekankan kepada masalah muamalat mu’asyarah, yakni masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan manusia bermasyarakat sebagai makhluk sosial, seperti: mendamaikan manusia, berbelas kasih pada anak yatim, orang miskin, menjaga hak wanita, hak suami dan istri, belanja keluarga, hak-hak tetangga, orang tua, anak dan keluarga, menghormati ulama, kaum kerabat, orang-orang sholeh dan lain-lain.

Pada pembahasan masalah moral dan adab, beliau menekankan juga tentang perihal keadilan, hubungan antara rakyat dan pemimpin, menjaga adab kesopanan terhadap orang hidup maupun orang mati, sampai adab-adab pribadi untuk diamalkan sehari-hari, tidak luput dari pembahasan beliau. Sedemikian lengkapnya, sehingga urusan pribadi umat dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, secara ‘manis’ dan rapi beliau bahas satu persatu.

Dalam masalah syariat, secara panjang lebar beliau membahas pula hukum-hukum dalam berbagai masalah; mulai dari masalah berpakaian, wudhu, sholat-sholat wajib, sholat-sholat sunat, puasa sunat, ziarah kubur, sumpah, jual-beli, dan lain-lain dengan menyertakan adab-adab dan kesempurnaan amal, lengkap dengan fadhilah amal, sehingga tidak monoton membahas masalah pokok fiqihnya saja. Pembahasan kitab ini diakhiri dengan indah pada Bab Istighfar, mulai dari dalil perintah beristighfar sampai kelebihan orang-orang yang beristighfar.

Sanjungan dan Kritikan

Namun begitu, walau sudah berjuta orang yang menyanjung Imam Nawawi dengan kitab Riyadus Shalihin nya, ternyata ada juga segolongan kecil orang-orang yang mulai mengkritisi kitab beliau. Munculnya kritikan atas Riyadus Shalihin memang terjadi hanya pada sepuluh tahun terakhir ini saja. Kritikan bermula dari seorang ulama di Timur Tengah asal Albania, yang membongkar pasang hadis-hadis terpilih dalam kitab tersebut. Nama ulama itu adalah Muhammad Nashiruddin al Albani. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul Riyadus Shalihin yang katanya ditahqiq oleh jamaah dari ulama-ulama, dan di-takhrij-kan oleh Muhammad Nasiruddin al Albani sendiri. Judul yang ditulis di dalam kitabnya itu adalah Riyadus Shalihin, Jamiul Huquq Mahfuzhoh lil Maktabil Islami, cetakan Maktabul Islami, Beirut.

Dalam kitabnya ini, Albani telah mendhoifkan sebanyak 40 buah hadits, yang kesemuanya telah dinyatakan shahih atau minimal hasan shahih oleh Imam Nawawi. Hasil kutipan beliau dari perawi-perawi kitab yang enam antara lain; Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ke-40 hadis didhoifkan Albani tersebut antara lain: Hadis nomor 67, 201, 292, 347, 363, 378, 413, 486, 490, 524, 583, 589, 601, 717, 736, 794, 802, 834, 894, 895, 896, 917, 951, 954, 1007, 1067, 1393, 1394, 1402, 1501, 1547, 1577, 1585, 1649, 1654, 1679, 1686, 1731, 1863, dan 1882 kesemuanya ada 40 hadis. (Lihat muqaddimah al Albani, halaman 11).

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa al Albani dan para pengikutnya secara tegas telah melarang keras mengutip dan mengamalkan hadis-hadis dha’if. Dengan demikian, maka orang-orang yang membaca kitab-kitab mereka akan dikhawatirkan akan terpengaruh, dan mengikuti faham mereka. Muaranya, mereka akan menganggap enteng semua hadis yang dinyatakan dha’if dari kitab Riyadhus Shalihin itu. Sesuatu yang sebenarnya dapat merugikan amalan umat.

Langkah al Albani ini telah diikuti pula oleh ulama-ulama Timur Tengah seperti DR. Musthafa Said al Khin, Muhidin Mistu dan kawan-kawan dengan judul “Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadis Shalihin min Kalami Sayidil Mursalin”, dua jilid tebal. Juga Salim bin Ied al Hilali, salah seorang murid al Albani yang juga mengarang kitab berjudul “Bahjatun Nadzirin Syarhu Riyadis Shalihin”. Kesemua kitab-kitab syarah ini bertaqlid kepada Muhammad Nashiruddin al Albani, baik dalam takhrij hadits maupun dalam metode pensyarahannya.

Dari Timur Tengah, gerakan kritik ini menjalar juga ke Indonesia. Meskipun sampai saat ini belum ada pengikut Albani Indonesia yang berani menampilkan diri sebagai pensyarah kitab, tetapi mereka gigih menterjemahkan kitab-kitab kelompok pengkritik, dan menerbitkannya dalam edisi bahasa Indonesia, antara lain ‘Nuzhatul Muttaqin’ diterjemahkan oleh Muhil Dharir, disunting oleh Abdul Hakim, dan diterbitkan oleh Al-I’tishom tahun 2005. Sedangkan Bahjatul Nadzirin diterjemahkan M. Abdul Ghaffar dan diedit oleh Ustad Mubarak BM Bamuallim Lc, dan diterbitkan oleh Pustaka Imam As Syafi’i. Belakangan Nuzhatul Muttaqin diterbitkan kembali dalam cetakan terbaru yang diterjemahkan oleh Ibnu Sunarto dan Aunurrafiq Shaleh Tamhid, dengan Penerbit Rabbani Press. Cetakan ini menyertakan takhrij hadits oleh Nashiruddin al Albani.

Sementara di dalam pensyarahan isi kitabnya, para pengkritik tanpa malu-malu meninggalkan faham Ahlussunnah wal Jama’ah al Asy’ari dari pembahasannya, bila bertemu dengan masalah-masalah yang menyangkut aqidah terutama yang membahas sifat-sifat Allah. Dengan tegas mereka menuliskan bahwa Allah punya muka, tangan, kaki, duduk di ‘Arasy, naik, turun, bertempat di langit dan lain-lain sebagainya. Hanya saja dengan tambahan kata bahwa sifat-sifat Allah tersebut tidak serupa dengan sikap makhluk-Nya. Jauh bedanya dengan Imam Nawawi dan Syekh Muhammad ‘Allan dalam Dalilul Falihin-nya, yang menta’wilkan sifat-sifat mutasyabihat kepada sifat-sifat muhkamat.

Sedangkan dalam pembahasan masalah fiqih, Al Hilali misalnya, dengan tegas mengatakan dalam muqaddimah kitabnya, bahwa beliau tidak mengambil dari sumber kitab fiqih yang ada, (tentu termasuk fiqih madzhab Syafi’i, salah satu dari madzhab yang empat), tetapi langsung mengambil kepada Qur’an dan hadis-hadis yang shahih saja. Tetapi jika diperlukan, katanya dia akan merujuk pada pendapat Syekh Ibnu Taymiyah dan muridnya Syekh Ibnu Qayyim al Jauziyah, sebagai rujukan utama. Padahal seluruh ulama Indonesia tahu betul bahwa kedua Syekh tersebut adalah pendiri dan guru besar dalam madzhab Salafi, di mana banyak fatwa dan ajarannya tak sejalan dengan keempat madzhab yang ada, terutama madzhab Syafi’i, yang dianut Imam Nawawi dan mayoritas umat Islam Indonesia. Dalam kaidah ilmu, tindakan mensyarahkan kitab seseorang dengan melawan isi dan pemikiran penulis asli, adalah tindakan yang tercela!

Tidak heran bila akhir-akhir ini mulai timbul ‘riak-riak’ kecil di masyarakat dan timbul pertengkaran mengenai amalan mereka yang tiba-tiba dinyatakan dho’if bahkan bid’ah oleh pengikut dan pembaca yang mulai terpengaruh dengan kitab-kitab para pengkritik ini.

Penulis mencoba meneliti kitab yang ditulis oleh Nasiruddin al Albani dan al Hilali kemudian membandingkannya dengan Riyadus Shalihin asli yang dikarang oleh Imam Nawawi, maka ada beberapa hal yang perlu dicermati. Di antaranya, al Albani telah mendhoifkan atas sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim pada nomor 1654. Berlawanan dengan itu, pada hadis Muslim, nomor hadis 1063, tentang kitab kejadian alam yang memakan masa 7 hari, al Al bani justru membela hadits ini, meskipun matannya, menurut al Baihaqi dan lainnya dinilai ta’arudl (bertentangan) dengan makna ayat Qur’an yang mengatakan kejadian alam itu 6 hari. Al Albani juga memunkarkan hadits nomor 894 yang telah dishahihkan oleh Imam Nawawi.

Namun begitu, ada juga hadis-hadis yang dihasan-shohihkan dalam kitab asli Imam Nawawi justru menurut al Albani dan Al Hilali naik derajat menjadi shahih, di antaranya hadis nomor 521 dan 584. Penulis mendapati ada juga kekeliruan al Albani dalam penulisan kitabnya, dimana beliau mengatakan pada mukaddimah kitabnya bahwa hadis nomor 490 adalah dhoif, ternyata di dalam isi kitab, yang dhoif adalah nomor 488, bukan nomor 490. Sebuah keteledoran yang tidak layak terjadi atas seorang sekaliber beliau.

Nampaknya, perjuangan al Albani mendhoifkan 40 hadis dalam kitab Riyadus Shalihin mulai luntur sebelum mencapai waktu satu dasawarsa. Pertama, justru datang dari muridnya sendiri, Salim ‘Ied Al Hilali yang dengan nyata-nyata mengatakan bahwa beberapa hadis yang didhoifkan dalam kitab Riyadus Shalihin ternyata memiliki hadis-hadis penyokong lain yang menyebabkan derajatnya naik menjadi hadis hasan lidzatihi atau hadits hasan li ghoirihi.

Belum lagi para ulama pengikut empat mazhab yang mulai bangkit dan memberikan perlawanan atas para pengkritik tersebut. Salah satunya adalah Syaikh Hasan Ali Syaqqaf asal Suriah, dalam kitabnya Tanaqhudhat al Albani al Wadhihah (Plin-plannya al Albani). Syekh Utsaimin, ulama besar Saudi Arabia, turut juga mengkritik al Albani dalam kitabnya ‘Syarah Aqidah Washithiyah’. Sementara di tanah air, terbit buku berjudul “Membongkar Kebohongan ‘Buku Mantan Kiyai NU Menggugat Shalawat Syirik’” Ditulis oleh LBM Nahdhatul Ulama, Jember, Muhyiddin Abdul Shomad dkk.

Wallahu a’lam bishshowab

WASIAT TERAKHIR IMAM AL-GHAZALI


وصيتي

Imam Ghazali terbangun pada dini hari, sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya pada adiknya, “Hari apakah sekarang ini?”

Adiknya pun menjawab, “Hari senin.”

Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, Menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya sambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”

… dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya. Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.

“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati Menangis untukku dan berduka bagiku

Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku

Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,

Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging

Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.

Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi, Dibentuk oleh debu, yang menjadi singgasanaku,

Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,

Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku

Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan

Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi, Hingga hari ini, aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.

Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.

Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas, Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.

Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca Apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,

Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih

Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku, Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan

Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.

Rumah kalian bukanlah tempatku lagi. Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,

Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini, Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,

Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang Janganlah takut ketika mati itu mendekat,

Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini.

Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu, Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.

Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi Karena aku tahu kau dan aku adalah sama Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya

Badan badan yang berasal sama

Baik atapun jahat, semua adalah milik kita

Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan

Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.

Wallahu a’lam bishshowab,,

Mengenal Blora Lebih Dekat


Ingin mengenal Blora lebih dekat?,

Secara khusus saya akan menginformasikan segala potensi kabupaten Blora yang sangat menarik untuk diketahui. Setidaknya, informasi tentang kabupaten Blora ini dapat anda jadikan sebagai bahan pertimbangan, bila anda akan melakukan perjalanan ke Blora.

gambar peta kabupaten bloraSecara administrasi Kabupaten Blora terletak di ujung paling timur Provinsi Jawa Tengah bersama Kabupaten Rembang. Luas wilayahnya adalah 182.058, 797 Ha. Batas administrasi Kabupaten Blora sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ngawi dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Grobogan. Wilayah ini terbagi atas 16 Kecamatan, 271 Desa, dan 24 Kelurahan.

Wilayah Kabupaten Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian selatan juga berupa perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, yang membentang dari timur Semarang hingga Lamongan (Jawa Timur). Ibukota kabupaten Blora sendiri terletak di cekungan Pegunungan Kapur Utara.

Separuh dari wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan, terutama di bagian utara, timur, dan selatan. Dataran rendah di bagian tengah umumnya merupakan areal sawah. Sebagian besar wilayah Kabupaten Blora merupakan daerah krisis air (baik untuk air minum maupun untuk irigasi) pada musim kemarau, terutama di daerah pegunungan kapur. Sementara pada musim penghujan, rawan banjir longsor di sejumlah kawasan.

Blora dilalui jalan provinsi yang menghubungkan Kota Semarang dengan Surabaya lewat Purwodadi. Jalur ini kurang begitu ramai jika dibandingkan dengan jalur Semarang-Surabaya lewat Rembang, karena kondisi jalannya yang kalah lebar. Blora juga dapat dicapai dengan menempuh jalur Semarang-Kudus-Rembang-Blora. Jalur kereta api melewati wilayah Kabupaten Blora, namun tidak melintasi ibukota kabupaten ini. Jalur tersebut melintas di bagian selatan. Stasiun kereta api Cepu merupakan yang terbesar, di mana berhenti kereta api jurusan Surabaya-Jakarta (KA Sembrani), Surabaya-Semarang (KA Rajawali), serta kereta api lokal Semarang-Bojonegoro (KRD). Blora memiliki juga alat transportasi lainnya seperti dokar, cikar, becak, dan sebagainya.

Potensi alam yang cukup terkenal di wilayah ini, yakni potensi minyak bumi terutama di daerah Cepu. Kabupaten Blora yang terbagi menjadi 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24 kelurahan, juga memiliki sejumlah potensi galian tambang seperti, pasir kuarsa, batu pasir, gypsum dan batu bara. Blora juga dikenal sebagai daerah penghasil kayu jati, karena hampir separoh wilayahnya merupakan hutan jati. Potensi kayu jati yang cukup melimpah itu, mendorong tumbuh suburnya berbagai kerajinan yang memanfaatkan kayu jati sebagai bahan baku utama, seperti handycraft, seni ukir, kaligrafi, dan mebel kayu bonggol jati. Bahkan, ada wilayah yang menjadi sentra kerajinan yang memanfaatkan bonggol pohon kayu jati yang dianggap tidak bermanfaat oleh pihak Perhutani.

Blora juga memiliki sejarah melahirkan sejumlah tokoh penting di bidang sastra, seperti Pramoedya Ananta Toer, selain juga memiliki potensi wisata alam, adat budaya, geologi, serta aneka ragam kesenian tradisional yang memiliki keunikan atau daya tarik tersendiri. Bahkan, daerah ini juga terkenal dengan adanya orang-orang samin yang merupakan keturunan, kerabat maupun rakyat dari seorang pejuang bernama Samin Surosentiko yang lahir pada 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, Kabupaten Blora. Saat masih kecil bernama Raden Kohar yang merupakan seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar di kalangan rakyat pedesaan dan ingin menghimpun kekuatan dari rakyat bawah guna melawan Pemerintah Kolonial Belanda.

lambang_bloraKabupaten Blora mempunyai motto pembangunan “MUSTIKA”, yakni Maju, Unggul, Sehat, Tertib, Indah, Kontinyu, dan Aman serta memiliki etos kerja “BLORA”, yakni Berani, Loyal, dan Rasional. Meskipun memiliki keunggulan dalam hal produksi kayu jati maupun wilayah penghasil minyak, akan tetapi bangunan rumah penduduknya masih kalah dibanding kabupaten lain. Hadirnya pabrik gula baru yang ada di Kecamatan Todanan, diharapkan bisa mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Blora, terutama masyarakat sekitar yang mayoritas memanfaatkan lahan pertanian sebagai salah satu sumber penghidupan. Kehadiran pabrik gula, tentunya mendorong para petani setempat untuk menanam tanaman tebu, menyusul hasilnya bisa dijual kepada pabrik terdekat. Selain itu, keberadaan pabrik tersebut juga diprediksi bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar, selain adanya penyerapan tenaga kerja baru. Pembangunan pabrik gula di Blora juga bisa mendukung terealisasinya program Jateng swasembada gula pada 2014 seperti yang dicanangkan Pemerintah Pusat.

Sebagai salah satu daerah lumbung padi di Jateng, tentunya kemajuan Blora masih bisa ditingkatkan lewat pola bercocok tanam yang lebih modern dalam menghasilkan padi yang berkualitas dan produktifitas yang semakin meningkat, meskipun persoalan air untuk irigasi pertanian masih menjadi kendala. Potensi lain di bidang pertanian yang dimiliki kota ini, juga tak kalah dengan daerah lain, seperti komoditas tanaman pangan yang potensial dikembangkan menjadi sebuah usaha agribisnis unggulan di Kabupaten Blora adalah komoditas jagung.

Potensi Blora di bidang pariwisata juga cukup menarik untuk dikunjungi, karena beberapa objek wisata yang ada memiliki nilai sejarah cukup tinggi, seperti Makam Srikandi Aceh, Poucut Meurah Intan, Abdul Kohar yang merupakan penyebar agama Islam di wilayah Blora yang juga masih saudara kandung Abdullah Muttamaqin (Pati), Sunan Pojok, serta Maling Gentiri yang dijuluki sebagai ratu adil. Selain itu, masih ada makam Jati Kusumo dan Jati Swara yang merupakan dua bersaudara putra dari Sultan Pajang yang suka mengembara dan menyebarkan Agama Islam. Dari kedua tokoh tersebut, Blora memiliki wayang krucil yang terbuat dari kayu dengan usia yang mencapai ratusan tahun yang lalu. Hingga kini, wayang krucil peninggalan Kusumo dan Jati Swara masih tersimpan di rumah salah satu tokoh setempat. Sejumlah objek wisata bersejarah lainnya juga masih bisa ditemukan di Blora, seperti makam khusus Bupati Blora maupun objek wisata alam untuk refresing keluarga.

Demikian sekilas informasi yang dapat saya sajikan untuk anda yang membutuhkan referensi bila ingin mengenal blora lebih dekat. Semoga Bermanfaat…!!