Bulan: Oktober 2013

SEJARAH ILMU USHUL FIQH


BACKDi masa Rasulullah saw, umat islam tidak membutuhkan kaidah-kaidah tertentu dalam memahami hukum-hukum syar’ie. Semua permasalahan dapat langsung di rujuk kepada Rasulullah saw lewat penjelasan-penjelasan beliau mengenai Al-qur’an atau melalui Sunnah beliau sendiri.

Para sahabat menyaksikan dan berinteraksi secara langsung dengan turunnya Al-qur’an dan mengetahui dengan baik sunnah-sunnah Rasulullah saw. Disamping itu mereka adalah para ahli bahasa dan pemilik kecerdasan berfikir serta kebersihan fitrah yang luar biasa, sehingga sepeninggal Rasulullah saw mereka pun tidak memerlukan perangkat teori (kaidah) untuk dapat berijtihad, meskipun kaidah-kaidah secara tidak tertulis telah ada dalam dada mereka yang dapat mereka gunakan kapanpun mereka membutuhkannya.

Setalah meluasnya futuhat islamiyyah, umat islam Arab banyak berinteraksi dengan bangsa-bangsa non-Arab yang berbeda bahasa dan latar belakang peradabannya. Hal ini menyebabakan melemahnya kemampuan berbahasa Arab di kalangan sebagian umat, terutama di Iraq. Di sisi lain kebutuhan akan ijtihad begitu mendesak seiring dengan timbulnya permasalahan-permasalahan baru yang belum pernah terjadi dan butuh segera ditemukan kejelasan hukum fiqhnya.

Dalam situasi seperti inilah muncul dua madrasah besar yang mencerminkan metode masing-masing dalam berijtihad. Kedua madrasah tersebut adalah: (lebih…)