Bulan: Januari 2013

Mengenal Teknik Penulisan Artikel


menulisMenulis artikel bukan hal mudah, juga bukan hal sulit. Jika kita bertanya :

“bagaimana teknik penulisan artikel yang baik?” pada mereka yang telah lama melanglang buana di dunia penulisan dengan banyak artikel yang sudah tersebar di berbagai media massa, jawabannya tidak akan jauh-jauh dari

“membaca, membaca, membaca, dan menulis, menulis, menulis”.

Lho, saya kan bertanya teknik penulisan artikel, kok jawabannya simpel sekali.

Mungkin kita akan kesal dengan jawaban tersebut. Kita lantas berpikir dan ragu, bagaimana mungkin hanya dengan membaca dan menulis seseorang bisa menulis artikel dengan baik. Padahal memang begitulah adanya. Alasannya, pertama, membaca bukan saja diartikan bisa membaca, ini ibu budi. Hakikat membaca sesungguhnya adalah mampu memahami apa yang dibaca serta menganalisa apa saja yang tersirat dalam bacaan. Lahap semua bacaan jika ingin (lebih…)

HARAKATUL ISLAM DI TENGAH GERUSAN MODERNITAS


cropped-sikil-mu.jpg

 KILAS BALIK penghayatan makna iman (tauhid)

“Hati manusia tak ubahnya setir sebuah kendaraan. Jika di belokkan ke arah kanan maka belok ke kanan dan jika di belokkan ke kiri maka belok ke kiri. Kendaraan akan berbelok jika setir bergerak. Pergerakan mobil dan setir tergantung, dari keahlian sopirnya. Sopir yang baik mampu menjalankan mobil dengan baik. Kualitas sopir pun sangat variatif. Jika hati bagaikan setir, maka iman adalah satu-satunya penggerak yang paling menentukan perjalanan kehidupan seseorang layaknya sopir sebuah kendaraan. Tubuh ini bagaikan mobil, hati bagaikan setir, dan penentu geraknya (baca: sopirnya) adalah keutuhan iman.. Sopir yang tidak ahli akan membahayakan penumpang dan mobilnya sendiri. Begitu juga iman yang rapuh mudah terombang-ambing hingga dapat mem-bahayakan keselamatan anggota badan dari petaka dunia dan akhirat”.

 

Pada dasarnya setiap manusia memiliki status yang sama di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mizan yang menjadi tolak ukur adalah aturan hidup positif dari-Nya yang_berupa al-Qur’an. Kadar seseorang dikatakan baik ataukah lebih baik adalah, “apabila seseorang sudah sesuai dengan aturan Allah dhahiran wa bathinan.”

Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Manusia yang paling baik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya.”([1]) Dalam hal lain, Rasul juga bersabda, “ketika kamu menyembelih hewan, maka sembelihlah dengan baik.([2])

Dari prinsip di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa semuanya mempunyai hak pada diri kita, dan hak-hak mereka harus dipenuhi semua tanpa kepincangan sama sekali. Allah, menusia, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda mati atau bahkan diri kita sendiri semuanya mempunyai tuntutan agar kita berbuat baik untuk memenuhi hak-hak mereka kepada diri kita.

Berbuat baik memang tidaklah mudah. Untuk melakukannya pun membutuhkan perjuangan yang ekstra. Terkadang harus mengorbankan waktu, tenaga, materi, dan lain sebagainya. Berbuat baik kepada orang baik saja sulit, apalagi (lebih…)