SEJARAH SINGKAT ILMU BALAGHOH

cropped-perjalanan.jpgSecara historis ilmu balaghoh muncul belakangan setelah benih-benih ilmu ini tumbuh dengan berbagai istilahnya sendiri. Bahkan sebelum ilmu-ilmu tersebut dikenal, esensinya telah mendarah daging dalam praktek berbahasa orang-orang Arab dahulu.

Orang-orang Arab Jahiliyyah pra turunnya Alqur’an telah dikenal sebagai ahli sastra yang kompeten. Mereka mampu mengubah keadaan alam atau suasana hati mereka menjadi lirik-lirik atau bait-bait syair yang mempesona yang sekaligus menunjukkan kesadaran dan keahlian mereka dalam bidang sastra yang bernilai tinggi. Misalnya saja, Imri’il Qays, salah seorang pujangga Arab Jahiliyyah. Ia mampu menggambarkan hal-hal yang bersifat abstrak menjadi konkrit, hingga seakan-akan dapat diraba keberadaannya. Duka nestapa dan kesedihan karena ditinggal mati sang ayah yang begitu abstrak ia ekspresikan dalam bentuk gaya bahasa yang figurative dan indah sekali,

فقلت له لما تمطي بصلبه      وأردف أعجازا وناء بكلكل

“ maka kukatakan kepadanya (malam) ketika ia menghimpitku dengan segenap tubuhnya dan menyesakkan dadaku dengan perasaan sedih dan duka cita yang tak terucapkan”

Setiap bangsa pasti akan memilih yang bagus dari seni berbahasa mereka. Membedakan yang baik dan yang buruk merupakan kemampuan fitrah mereka sebagai pemilik bahasa tersebut. Mereka pun akan menggunakan berbagai macam gaya bahasa yang indah untuk mengungkapkan apa yang menjadi keinginan mereka. Tak terkecuali bangsa Arab dan bahasa mereka. Ahmad Thib Raya mengutib pernyataan Syauqi Dheif menyatakan bahwa bangsa Arab pada masa Jahiliyyah tersebut telah mencapai tingkat tinggi dalam menggunakan balaghah dan bayan. Orang yang melakuka kajian yang serius dan mendalam terhadap sastra Arab Jahiliyyah, baik prosa maupun puisinya akan berdecak kagum terhadap produk-produk kesusastraan yang mereka miliki.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa keberadaan balaghah sebelum turunnya Alqur’an sudah demikian berkembang, apalagi setelah turunnya Aqur’an. Keindahan dan kelembutan berbahasa menjadi pokok kajian yang nggak akan ada habisnya, yang telah melahirkan banyak ungkapan-ungkapan indah dan bermakna dalam kepustakaan satra Arab. Pada perkembangan selanjutnya, semakin meluasnya percampuran orang-orang Arab dengan Non-Arab seiring pesatnya kemajuan peradaban Islam, menjadikan pelu disusunnya sebuah ilmu pengukur ketepatan dan keindahan berbahasa Arab. Hal ini dikarenakan mereka orang-orang Non-Arab tidak dapat mengetahui keindahan bahasa Arab kecuali jika terdapat kaidah ataupun pembanding untuk hal tersebut. Hal ini menjadi sangat dibutuhkan terutama karena mereka punya keinginan besar untuk mengetahui kemu’jizatan Alqur’an.

Ilmu balaghoh terus mengalami perkembangan sehingga mencapai puncaknya pada abad ke-V H yang ditandai dengan semakin utuhnya kajian-kajian didalamnya yang tertuang dalam dua kitab yang disusun oleh Al Imam Abdul Qohir Al Jurjany (400 – 471 H). Kedua kitab tersebut adalah:

  1. Kitab Asrorul Balaghoh: berisikan soal-soal majas, isti’aroh, tamtsil, tasybih dan lain-lain dari cabang ilmu ma’ani yang merupakan bagian dari balaghoh.
  2. Kitab Dala’ilul Ijaz: berisikan tentang keindahan susunan kata dan konteksnya, dengan keindahan makna yang menjadi keistimewaan uslub Alqur’an yang merupakan kemu’jizatannya.

Kemudian disusul dengan kemunculan As-Sakaky pada abad ke-VII H yang semakin mematangkan keberadaan ilmu Balaghoh sebagai disiplin keilmuan dengan memetakannya menjadi tiga cabang ilmu sebagai komponennya, yaitu Ilmu Ma’any, Ilmu Badi’ dan Ilmu Bayan. Namun antara ilmu Bayan dan ilmu Badi’ masih beliau gabung dalam satu wadah yang bernama ilmu Al-Mahasin yang terbagi kedalam dua bagian, yaitu Al-Mahasin Al-Lafdziyyah dan Al-Mahasin Al-Ma’nawiyyah. Beliau menyusun sebuah karya besar yang menguraikan ilmu tersebut disamping ilmu-ilmu pengetahuan bahasa arab lainnya. Kitab tersebut dikenal dengan nama Miftahul Ulum. Sedangan pembagian ilmu balaghoh kedalam tiga istilah (ilmu Ma’any, ilmu Bayan dan ilmu Badi’) seperti yang dikenal sekarang dilakukan oleh Al Khotib Al Qozwainy (W. 729 H) pada abad ke-VII H dalam karyanya yang bernama Talkhisul Miftah yang merupakan ringkasan dari kitab Miftahul Ulum karya As Sakaky.

                                        El_kaff,13 rajab 1433 H

والله اعلم بالصواب

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s